Dalam dunia publikasi ilmiah digital, sistem seperti Open Journal Systems (OJS) telah merevolusi proses editorial dengan meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas. Namun, di balik kemudahan teknis tersebut, muncul fenomena yang jarang dibahas secara formal: silent rejection (penolakan diam-diam) dan silent acceptance (penerimaan diam-diam) naskah. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting terkait etika, transparansi, dan keadilan dalam publikasi ilmiah.
Definisi Silent Rejection dan Silent Acceptance
Silent Rejection: Keputusan menolak naskah tanpa memberikan komentar, justifikasi, atau masukan yang jelas kepada penulis.
Silent Acceptance: Keputusan menerima naskah tanpa memberikan evaluasi atau feedback formal, sehingga penulis tidak mengetahui pertimbangan editorial yang mendasari penerimaan.
Fenomena ini muncul terutama pada sistem digital terautomasi seperti OJS, di mana komunikasi antara editor dan penulis sering terjadi melalui platform tanpa tatap muka atau dialog mendalam.
Faktor Penyebab
Beberapa faktor yang memungkinkan terjadinya silent rejection dan silent acceptance antara lain:
- Beban Kerja Editorial
Banyak jurnal memiliki jumlah naskah yang melebihi kapasitas editor dan reviewer. Dalam kondisi ini, keputusan cepat tanpa komentar formal sering dianggap efisien.
- Normalisasi Prosedur Digital
Sistem OJS memungkinkan penolakan atau penerimaan naskah dengan satu klik, tanpa mewajibkan pemberian komentar. Hal ini menjadikan silent rejection atau acceptance sebagai praktik yang “biasa” dalam operasional jurnal.
- Kepatuhan pada Pedoman Tersirat
Penulis yang tidak sepenuhnya mengikuti pedoman editorial mungkin mengalami penolakan diam-diam. Sebaliknya, penulis yang memenuhi syarat teknis minimal bisa diterima tanpa evaluasi mendalam.
- Tekanan Publikasi dan Produktivitas
Beberapa jurnal menggunakan keputusan diam-diam untuk menjaga arus publikasi tetap stabil, sehingga tidak ada hambatan administrasi yang terlihat.
Implikasi Etis
Fenomena silent rejection dan acceptance menimbulkan sejumlah isu etis yang signifikan:
- Kurangnya Transparansi: Penulis tidak mengetahui alasan penolakan atau dasar penerimaan, sehingga sulit melakukan perbaikan atau pembelajaran.
- Ketidakadilan Prosedural: Tanpa feedback formal, keputusan editorial bisa terlihat subjektif atau bias, meski alasan sebenarnya mungkin administratif atau teknis.
- Beban Psikologis Penulis: Penulis sering merasa bingung, frustasi, atau kehilangan motivasi karena tidak menerima umpan balik yang konstruktif.
- Reduksi Kualitas Akademik: Silent acceptance bisa mendorong publikasi naskah yang belum optimal, karena tidak ada masukan reviewer yang disampaikan secara eksplisit.
Strategi Mengatasi Fenomena
- Mewajibkan Komentar Minimal
Jurnal dapat menetapkan bahwa setiap penolakan atau penerimaan naskah harus disertai komentar singkat atau catatan alasan.
- Pelatihan Editorial dan Reviewer
Editor dan reviewer perlu diberikan pelatihan untuk menyampaikan feedback singkat tetapi konstruktif, meski jumlah naskah besar.
- Transparansi Proses melalui Dashboard OJS
Sistem dapat menampilkan status naskah, alasan penolakan, atau saran perbaikan secara otomatis untuk meningkatkan kejelasan bagi penulis.
- Evaluasi Berkala Prosedur Editorial
Manajemen jurnal harus melakukan audit internal untuk memastikan silent rejection dan acceptance tidak menjadi norma, melainkan pengecualian.

