Dalam proses publikasi ilmiah, revisi adalah tahap yang paling menentukan apakah sebuah naskah akan diterima atau kembali ditolak. Pada tahap inilah penulis harus menjawab komentar reviewer secara jelas, sistematis, dan transparan. Salah satu strategi yang sering digunakan adalah memberi highlight berwarna pada bagian teks yang telah direvisi. Meski terlihat sederhana, penggunaan warna highlight ternyata memiliki pengaruh tersendiri terhadap persepsi editor maupun reviewer. Pertanyaannya: apakah pemilihan warna tertentu benar-benar efektif dalam meningkatkan kejelasan revisi atau bahkan mempengaruhi penilaian?
Highlight sebagai Penanda Visual yang Mempermudah Navigasi
Revisi tanpa highlight sering membuat reviewer kesulitan menemukan perubahan yang dilakukan penulis. Ketika naskah direvisi dengan menandai perubahan menggunakan warna, reviewer dapat langsung mengidentifikasi mana bagian yang diperbaiki, ditambah, atau dihapus. Ini membuat proses penilaian berjalan lebih cepat dan mengurangi risiko reviewer melewatkan perubahan penting. Warna yang paling sering digunakan seperti kuning, biru, atau hijau secara visual memudahkan navigasi, terutama pada artikel panjang dengan banyak perbaikan.
Pengaruh Warna Terhadap Persepsi Profesionalitas
Menariknya, studi informal dan pengalaman editorial menunjukkan bahwa pilihan warna highlight dapat memengaruhi persepsi terhadap profesionalitas penulis.
- Kuning dinilai paling netral dan umum digunakan karena terlihat jelas tanpa membuat dokumen terlihat “ramai”.
- Biru sering dipersepsikan lebih elegan dan tidak terlalu mencolok, cocok untuk revisi dengan perubahan minimal.
- Merah, sebaliknya, dianggap terlalu agresif dan sering dihindari karena memberi kesan penekanan berlebihan.
Dalam konteks ini, bukan sekadar ada atau tidaknya highlight yang mempengaruhi persepsi reviewer, tetapi bagaimana warna tersebut disajikan.
Memperkuat Transparansi dan Kejujuran Penulis
Highlight yang konsisten membantu reviewer melihat secara langsung apakah penulis benar-benar menindaklanjuti setiap komentar. Penandaan ini menciptakan kesan transparan bahwa penulis tidak menyembunyikan perubahan dan tidak mengabaikan permintaan perbaikan. Bahkan, beberapa editor mengakui bahwa penulis yang menandai revisi dengan rapi lebih mungkin dipandang serius dan kooperatif.
Namun, Highlight yang Berlebihan Justru Kontraproduktif
Walaupun highlight membantu, penggunaan yang berlebihan dapat membuat dokumen terlihat kacau. Terlalu banyak warna, terlalu kontras, atau mencampur beberapa warna dalam satu paragraf bisa mengganggu fokus reviewer. Beberapa editor bahkan menyarankan penulis untuk tetap minimalis: gunakan satu warna untuk penanda revisi utama, dan hanya menambahkan warna lain jika betul-betul diperlukan.
Rekomendasi Praktis untuk Penulis
Untuk memaksimalkan efektivitas highlight dalam revisi naskah, ada beberapa praktik terbaik yang dapat diikuti:
- Gunakan satu warna dominan yang lembut tetapi tetap jelas, seperti kuning atau biru.
- Hindari warna yang terlalu mencolok seperti merah menyala atau hijau neon.
- Selaraskan highlight dengan komentar di rebuttal letter, sehingga reviewer dapat mencocokkan penjelasan dengan perubahan teks.
- Hapus highlight setelah naskah diterima, jika diminta oleh editor, agar versi final tetap bersih dan profesional. WH.


