Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI), khususnya generative AI seperti ChatGPT, membawa dampak signifikan dalam dunia penulisan akademik. Di satu sisi, AI memberi kemudahan luar biasa dalam menyusun struktur tulisan, merapikan bahasa, bahkan menghasilkan draf artikel secara cepat. Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran besar tentang orisinalitas dan etika penulisan akademik. Para editor jurnal ilmiah kini menghadapi tantangan baru: mereka tidak lagi hanya bertugas sebagai penyunting isi dan gaya bahasa ilmiah, tetapi juga sebagai penjaga integritas dan kebenaran karya tulis. Tak heran jika banyak yang menyebut editor jurnal sebagai “detektif” akademik masa kini.
Tantangan ini muncul karena teks yang dihasilkan oleh AI sulit dibedakan dari tulisan manusia. ChatGPT, misalnya, mampu menyusun kalimat secara koheren dan bernada akademik, namun sering kali tidak menyertakan sumber rujukan yang jelas. Hal ini membuat potensi plagiarisme menjadi lebih samar, karena teks tidak disalin langsung dari sumber lain, melainkan dihasilkan ulang dengan gaya bahasa yang baru. Akibatnya, editor harus ekstra waspada dalam menilai keaslian dan keabsahan tulisan ilmiah yang masuk ke meja redaksi.
Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan oleh editor jurnal di era AI antara lain:
- Mendeteksi teks yang dihasilkan AI
Editor perlu mengenali ciri khas teks buatan AI, seperti kalimat yang sangat rapi, terlalu netral, minim posisi kritis, serta tidak menyertakan kutipan langsung dari sumber yang kredibel. - Menggunakan alat bantu pendeteksi AI
Meskipun alat seperti GPTZero, Turnitin AI Detection, dan Originality.ai belum sempurna, mereka bisa menjadi pendeteksi awal terhadap kemungkinan penggunaan AI secara berlebihan dalam penulisan. - Menegaskan transparansi penulis
Jurnal sebaiknya mulai mewajibkan penulis untuk menyatakan penggunaan AI secara terbuka dalam bagian acknowledgements atau pernyataan kontribusi penulis. Ini membantu menjaga transparansi proses penulisan. - Memperbarui kebijakan editorial
Kebijakan jurnal perlu disesuaikan dengan era baru ini, termasuk memberikan panduan etis tentang penggunaan AI, serta memperkuat posisi editor sebagai penjaga kualitas dan integritas karya ilmiah.
Lebih dari itu, para editor jurnal juga perlu menjalankan peran edukatif. Mereka harus menjadi jembatan antara perkembangan teknologi dan praktik penulisan ilmiah yang bertanggung jawab. Dengan memberikan edukasi, pedoman, serta contoh penggunaan AI yang etis, editor dapat membantu penulis memahami batasan penggunaan teknologi ini. Dalam konteks ini, kerja sama antara editor, reviewer, dan institusi akademik menjadi sangat penting.
Di tengah arus otomatisasi dan digitalisasi, menjaga integritas akademik bukan hanya menjadi tugas teknis, tetapi juga misi moral. Editor jurnal berada di garis depan pertahanan dunia akademik—bukan hanya memastikan artikel terstruktur dengan baik, tetapi juga memastikan bahwa setiap kalimat yang tercetak berasal dari proses berpikir, bukan semata dari perintah ke mesin. Maka wajar jika kini editor jurnal juga harus menjadi seorang “detektif”, yang tak hanya membaca, tapi juga menyelidiki.


