Seiring meningkatnya tuntutan publikasi di jurnal internasional, maka tentu banyak penulis yang ingin naskahnya berhasil publish atau diterima di jurnal internasional. Namun, dari hasil pengamatan reviewer banyak terdapat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para penulis ketika mempersiapkan dan mengirimkan naskahnya di jurnal ilmiah. Hal inilah yang menjadi alasan reviewer tidak merespon naskah yang diajukan penulis.
Untuk menghindari nasib tersebut, simak beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan penulis jurnal internasional.
Tidak Membaca Literatur sesuai Bidang Kajian
Studi literatur merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebelum menulis suatu artikel. Kegiatan ini akan membangun dasar yang kuat bagi publikasi penulis. Namun, langkah ini sering diabaikan oleh penulis pemula. Alih-alih melakukan studi literatur, penulis pemula justru banyak yang menulis tanpa mengumpulkan sumber, membaca, mempelajari, dan merenungkannya.
Melakukan Plagiasi
Kesalahan fatal yang sering dilakukan penulis adalah plagiat karya tulis orang lain atau menyalin tulisan tanpa mencantumkan sumber aslinya. Meski terlihat mudah bagi penulis, justru saat ini perilaku plagiat sangat mudah terdeteksi. Setiap jurnal sudah mulai menerapkan aturan scanning yang canggih dan rumit, sehingga kegiatan plagiasi setiap penulis dapat diketahui dengan mudah dan cepat. Setiap penulis harus menghindari kesalahan ini karena plagiarism merupakan pelanggaran serius etika penerbitan dan dalam beberapa kasus dianggap sebagai pelanggaran hak cipta.
Penulisan yang Berbelit-belit
Kesalahan yang hampir selalu muncul adalah kerangka berpikir yang berbelit-belit. Jurnal sebagai karya ilmiah akademik seharusnya ditulis langsung ke intinya. Sebuah artikel penelitian yang baik ditulis secara deduktif. Setiap paragraf mengandung satu ide pokok yang sebaiknya diletakkan sebagai kalimat awal, diikuti 3-5 kalimat pendukung. Tidak hanya itu, kebanyakan reviewer jurnal internasional yang berasal dari negara barat memiliki cara berpikir yang straight to the point atau langsung pada intinya.
Tidak Fokus pada Research Gap
Kebanyakan penulis masih berfokus pada kuantitas dibandingkan kualitas. Hal ini justru menyebabkan naskah yang dibuat menjadi kurang memiliki nilai jual. Dalam menulis artikel, fokus penulisan seharusnya ada pada research gap. Penulis harus menjelaskan gap yang ingin diisi dalam artikelnya berdasarkan kelemahan-kelemahan penelitian terdahulu.
Pengulangan Kalimat Berlebihan
Pengulangan kalimat biasanya muncul pada artikel jurnal yang diturunkan dari skripsi/tesis/disertasi. Biasanya, penulis membuat jalan pintas dengan menyalin kalimat-kalimat dalam skripsi/tesis/disertasinya. Tanpa sadar, penulis menulis beberapa paragraf dengan ide pokok paragraph yang sama dan kalimat yang diulang-ulang. Hal ini tidak disukai reviewer karena pengulangan kalimat tersebut membuat jurnal menjadi tidak efektif.
Kesalahan Penerjemahan
Kesalahan penerjemahan kerap terjadi di kalangan penulis. Hal ini disebabkan karena sebagian besar penulis kurang memahami bahasa inggris dengan baik sehingga pasti terdapat kesalahan-kesalahan mayor yang tidak bisa sekadar diperbaiki secara parsial. Menerjemahkan artikel untuk dipublikasikan di jurnal internasional bukan sekadar menerjemahkan kata-kata saja. Penerjemah harus menjiwai penelitian, mengerti dan memahami penelitian yang dituliskannya. Selain itu juga harus memiliki feeling and sense of language yang baik. Karena jika tidak, hasil terjemahan berpotensi merubah isi dari penelitian dalam artikel dan isinya menjadi tidak tersampaikan. Jika penulis tetap memiliki kesulitan dalam penerjemahan artikel, maka sebaiknya penulis menyewa jasa penerjemah profesional. Hal ini juga dapat meminimalisir penggunaan istilah yang salah dalam artikel penulis.


