Automated screening adalah tahap awal dalam proses publikasi ketika jurnal menggunakan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menilai kelayakan awal sebuah naskah sebelum dibaca oleh editor. Teknologi ini menjadi semakin umum karena jumlah submisi yang terus meningkat, sementara sumber daya editorial terbatas. AI membantu mempercepat proses seleksi awal, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi beban kerja editor.
Apa itu Automated Screening dalam Publikasi Jurnal?
Automated screening adalah proses penyaringan otomatis yang dilakukan menggunakan algoritma AI. Sistem ini memeriksa berbagai aspek teknis dan ilmiah dari naskah untuk menentukan apakah artikel layak masuk ke tahap desk review. Tujuannya bukan menggantikan editor, tetapi memberikan analisis objektif yang membantu editor membuat keputusan awal.
Komponen Utama yang Dianalisis oleh AI
AI tidak hanya memeriksa satu aspek, tetapi mencakup beberapa indikator utama:
- Kesamaan (Similarity) dan Plagiarisme
AI mengecek tingkat kesamaan menggunakan machine learning untuk mengidentifikasi pola bahasa yang mirip. Sistem mampu membedakan antara kutipan sah dan potensi plagiarisme.
- Kesesuaian Scope
AI menilai apakah konten naskah sesuai dengan fokus dan ruang lingkup jurnal melalui analisis kata kunci, abstrak, dan topik utama.
Kualitas Bahasa dan Struktur
AI dapat mengidentifikasi:
- kalimat tidak efektif,
- grammar yang buruk,
- struktur artikel yang tidak mengikuti kaidah ilmiah,
- serta ketidakselarasan antara abstrak dan isi.
Validitas Template dan Format
AI memeriksa apakah naskah mengikuti template jurnal, termasuk sitasi, daftar pustaka, margin, tabel, dan gambar.
Deteksi Etika Penelitian
Beberapa sistem AI mampu memeriksa red flags seperti:
- data yang mencurigakan,
- gambar yang dimanipulasi,
- penggunaan metode yang tidak konsisten.
Mengapa Jurnal Menggunakan AI dalam Proses Screening?
- Efisiensi Waktu, AI dapat menilai puluhan submisi dalam hitungan menit. Hal ini mengurangi lamanya antrean editorial.
- Konsistensi Penilaian, AI memberikan hasil yang stabil dan tidak dipengaruhi subjektivitas manusia, sehingga standar awal lebih konsisten.
- Mengurangi Beban Editor, editor dapat fokus pada naskah yang benar-benar layak masuk review, bukan memilah naskah yang tidak memenuhi standar dasar.
- Memperkuat Integritas Jurnal, AI membantu mengidentifikasi pelanggaran etika, sehingga mencegah publikasi naskah bermasalah.
Bagaimana Keputusan Akhir Tetap Berada di Tangan Editor
Meskipun kuat, AI bukan pengambil keputusan utama. Hasil screening berupa rekomendasi, bukan keputusan final. Editor akan meninjau kembali laporan AI dan menentukan apakah naskah diteruskan ke reviewer atau ditolak. Editor tetap memiliki kontrol penuh karena keputusan ilmiah memerlukan pertimbangan manusia.
Tantangan dan Keterbatasan AI dalam Screening
- AI bisa salah membaca konteks, terutama penelitian interdisipliner.
- Bahasa yang rumit atau abstrak bisa ditandai sebagai masalah meskipun sebenarnya tidak.
- AI tidak dapat menilai kedalaman argumentasi ilmiah.
- Beberapa penulis mengelabui sistem melalui parafrase otomatis.
Karena itu, AI diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses editorial.


