Dalam dunia akademik modern, impact factor (IF) telah menjelma menjadi semacam mata uang intelektual angka kecil yang mampu menentukan reputasi peneliti, kualitas jurnal, bahkan masa depan karier seseorang. Awalnya, IF hanyalah alat bibliometrik sederhana yang digunakan untuk mengukur frekuensi sitasi sebuah jurnal. Namun kini, angka tersebut berubah menjadi simbol prestise yang kerap dijadikan patokan utama dalam menilai kualitas sebuah artikel ilmiah. Ironisnya, fokus berlebihan pada angka justru membuat esensi penelitian yakni kontribusi ilmiah semakin terpinggirkan.
Salah satu alasan mengapa IF menjadi “kultus” adalah tekanan struktural dalam dunia akademik, banyak institusi menggunakan IF sebagai indikator kinerja, bahkan syarat kenaikan jabatan. Akibatnya, peneliti terdorong untuk mengejar publikasi di jurnal dengan IF tinggi, meski tidak selalu relevan dengan bidang penelitian mereka. Fenomena ini melahirkan budaya kompetisi ekstrem, di mana kualitas dan keaslian riset sering dikorbankan demi memenuhi standar numerik. Di beberapa kasus, peneliti bahkan menunda publikasi atau memecah riset menjadi beberapa artikel kecil demi memperbesar peluang diterbitkan di jurnal ber-IF besar.
Tidak berhenti di situ, kultus angka ini juga menciptakan bias dalam persepsi kualitas. Artikel yang diterbitkan di jurnal dengan IF tinggi sering dianggap lebih kredibel, meskipun isinya mungkin biasa saja atau kurang berdampak di lapangan. Sebaliknya, penelitian inovatif yang dipublikasikan di jurnal kecil sering terabaikan hanya karena tidak memiliki “nilai jual” sitasi yang tinggi. Hal ini mendorong homogenisasi penelitian, di mana topik-topik populer mendapat perhatian berlebih, sedangkan bidang niche yang sebenarnya penting kehilangan tempat dalam ekosistem ilmiah.
Dampak lain dari obsesi terhadap IF adalah terbentuknya lingkaran kekuasaan yang menguntungkan jurnal-jurnal besar. Semakin tinggi IF sebuah jurnal, semakin banyak pengiriman naskah yang mereka terima. Dengan seleksi ketat, mereka dapat memilih artikel yang diprediksi akan banyak disitasi menciptakan siklus yang memperkuat posisi mereka sebagai otoritas ilmiah. Di sisi lain, jurnal lokal atau baru tidak punya kesempatan untuk meningkatkan reputasi karena kurangnya paparan dan sitasi awal. Akhirnya, dunia publikasi menjadi semakin tidak seimbang, dengan kesenjangan antara jurnal mapan dan jurnal emergen yang semakin melebar.
Selain itu, mekanisme perhitungan IF sendiri sebenarnya menyisakan banyak kelemahan. IF tidak mengukur kualitas isi artikel, hanya jumlah sitasi rata-rata. Artikel metodologi yang simpel namun sering digunakan dapat mendongkrak IF, sementara artikel penelitian mendalam yang membutuhkan waktu untuk berkembang justru memberikan kontribusi jangka panjang yang tidak langsung terlihat dalam angka tahunan. Lebih jauh, IF dapat dimanipulasi melalui strategi editorial seperti mendorong sitasi internal atau memilih tipe artikel yang lebih mudah disitasi. Dengan kata lain, angka tersebut dapat dibentuk oleh kepentingan penerbit, bukan semata perilaku ilmuwan.
Pada akhirnya, kultus impact factor mencerminkan masalah mendasar dalam budaya akademik: kecenderungan mengukur prestasi ilmiah secara kuantitatif, bukan kualitatif. Ketika angka menjadi tujuan, bukan alat, ilmu kehilangan kedalaman dan keberagaman. Untuk mengembalikan esensi penelitian, komunitas akademik perlu beralih pada penilaian yang lebih holistik, seperti kualitas metodologi, kontribusi nyata, dan keterbukaan data. Tanpa perubahan ini, dunia ilmiah akan terus terjebak dalam siklus mengejar angka, sementara substansi penelitian perlahan-lahan tergerus.
Meski IF akan tetap bertahan sebagai salah satu indikator, ia seharusnya menjadi bagian dari penilaian, bukan pusatnya. Ketika ilmuwan, reviewer, dan institusi mulai memandang nilai intelektual sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar angka, barulah publikasi ilmiah kembali menemukan arah sejatinya: memperluas pengetahuan, bukan sekadar menaikkan sitasi.
WH.


